27/01/11

Riza Marlon

Menjadi fotografer khusus membidik hewan-hewan yang masih tinggal di alam liar bukanlah pekerjaan mudah. Tapi, itu dilakoni Riza Marlon sejak 20 tahun lalu. Apa yang membuatnya betah?

Kini, karya Riza sudah terpampang di berbagai publikasi LSM asing. Lembaga milik PBB seperti World Wild Fund (WWF), atau LSM Internasional seperti The Nature Conservacy (TNC), dan Wildlife Conservation Society (WCS) adalah beberapa nama yang menggunakan foto karya Riza.

"Saya menekuni bidang ini karena rasa terpukul," kata Riza saat ditemui Jawa Pos di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA), Universitas Indonesia, Depok, Minggu lalu (9/1). Saat ditemui, Riza baru saja selesai mengajarkan dasar-dasar fotografi objek alam liar kepada sejumlah mahasiswa MIPA.

20 Tahun menjadi fotografer Spesialis Satwa Liar Indonesia
Dengan latar belakang hobi menyayangi binatang, Riza menekuni dunia fotografi sejak bangku SMA. Awal mulanya, Riza mengabadikan objek-objek binatang di lingkungan sekitarnya. Saat masuk kuliah di Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Riza semakin termotivasi untuk menekuni fotografi alam liar. "Saya masuk fakultas biologi. Sejak itu mulai kenal banyak binatang," kata pria kelahiran 12 Januari 1960 itu.

Selama kuliah, Riza banyak mempelajari kehidupan alam liar, khususnya binatang. Sejumlah kelompok hewan, seperti grup primatologi (kera), grup burung, grup ular, dia ikuti.

Dari situlah Riza sadar bahwa keanekaragaman hayati Indonesia begitu tinggi. Sayangnya, kalangan fotografi Indonesia yang menekuni alam liar belum ada saat itu. Posisi itulah yang menjadi alasan untuk selanjutnya dia tekuni. "Buku-buku binatang, film binatang, semua dari luar negeri. Binatang Indonesia yang motret juga orang luar negeri, mengapa tidak ada orang Indonesia" ujar Riza.

Setahap demi setahap hobi Riza untuk hunting foto di alam liar pun mulai terpupuk. Namun, pendidikan di bangku kuliah "menghalangi" tekadnya untuk segera fokus. Sambil terus mendalami jurusan yang dia pilih, Riza memanfaatkan keahlian fotografinya untuk kepentingan komersial. "Saya ikut-ikut bikin foto produk, dan foto wedding (pernikahan, Red). Lumayan, buat tambah uang kuliah dan uang makan," sebutnya.

Riza sempat terlena. Penghasilan di bisnis fotografi komersial ternyata menguntungkan. Pada 1990, ketika seluruh mata kuliah di jurusan biologi sudah habis, Riza memutuskan fokus sepenuhnya di dunia fotografi alam liar. "Saya lepas semua, karena demi mencari objek binatang," sebutnya.

Berbekal biaya sendiri, Riza memulai petualangan untuk mencari objek alam liar. Sasaran pertamanya adalah kehidupan liar di Pulau Sumatera. Perjalanan dengan kapal dia pilih karena lebih hemat. Persiapan untuk memotret objek liar di Pulau Sumatera pun dilakukan dengan matang. "Harus pandai-pandai mengatur keuangan, karena siapa pula yang berani kasih sponsor ke saya saat itu," tuturnya.

Petualangan di Sumatera dilalui hingga berbulan-bulan. Keanekaragaman binatang dan suasana alam terekam dalam karya foto Riza. Saat itu Riza mulai menawarkan hasil karyanya untuk dipublikasikan dalam berbagai penerbitan. "Saya tawarkan untuk buat gambar kalender, brosur, poster," tuturnya.

Para penerbit yang memakai foto Riza saat itu hingga kini dikenai biaya sewa foto. "Mereka cuma punya hak pakai untuk satuan waktu," jelasnya.

Data foto dan film masih disimpan rapi oleh Riza sampai kini. Awal mulanya, pendapatan Riza lebih banyak dihabiskan untuk belanja alat-alat pendukung fotografi. "Hampir 80 persen saya habiskan, dan istri saya mengerti kondisi itu," kata suami Wita itu.

Melalui publikasi semacam itulah Rizal mulai populer sebagai fotografer alam bebas. Lama-lama beberapa LSM menawari Riza sejumlah tugas dokumentasi alam liar Indonesia. Kelebihan yang dimiliki Riza adalah kuantitasnya memiliki portofolio hewan-hewan di Indonesia. "Karena saya pernah ke pulau-pulau di Indonesia, itu yang membuat saya selangkah lebih maju," ujarnya.

Salah satu pengalaman yang berkesan adalah saat mendapat tugas dari Bird Indonesia. Ketika itu Riza mendapat tugas mengabadikan burung cendrawasih di Papua. Butuh perjalanan darat 20 jam untuk menembus perkampungan yang ada di Pegunungan Arfak Papua. Setelah itu, dengan bantuan pemandu lokal, butuh waktu empat jam lagi untuk menuju tempat cendrawasih berada. "Melelahkan, tapi saya menikmati," tuturnya.

Menurut Riza, pengalaman di fotografi alam liar tidak hanya mendapatkan foto binatang secara eksklusif. Pengalaman yang tak kalah berharga adalah belajar mengenali kearifan lokal. "Karena belum semua binatang itu berada di konservasi, masih banyak yang berada di alam liar," jelasnya.

Berada di alam liar tentu bukan perkara mudah. Dengan akses dan medan yang sulit, tentu Riza membutuhkan bantuan warga lokal. Acapkali, Riza sebelum mengeksekusi foto alam liar, terlebih dahulu dia bertemu warga setempat. "Intinya harus minta izin, di setiap tempat berbeda. Bisa dengan kepala desa atau bisa dengan kepala suku setempat," ujarnya.

Keterlibatan warga lokal itu penting. Riza menyatakan, hanya warga hutan setempat yang memahami seluk beluk binatang di lingkungannya. "Mereka kan yang bertemu, mereka yang tahu kapan, di mana, jam berapa binatang itu muncul," jelasnya. Dengan melakukan komunikasi, pekerjaan fotografi alam liar menjadi lebih terencana. "Kita tidak perlu menunggu sampai sengsara. Itu namanya manajemen waktu dan biaya," lanjutnya.

Jika berbicara konservasi, Riza pun memiliki kritik. Sebab, lembaga konservasi di Indonesia tidak memiliki basis penelitian yang kuat. Binatang yang dilindungi di setiap wilayah tidak terdata dengan baik. "Kalau kita ke Ujung Kulon, misalnya, tahun ini bilangnya 50 ekor, tahun depan 50 ekor. Berarti itu tidak diteliti," sebutnya.

Posisi itu sangat berbeda dengan kondisi konservasi di Afrika yang terorganisasi dengan baik. "Konservasi di Afrika itu well preserved dan well protected," kata Riza. Di Afrika, dengan adanya penelitian, binatang yang dilindungi bisa dipantau dan terdokumentasi lebih mudah. "Coba kita mau motret harimau Sumatera, kita tanya di mana, pasti mereka (lembaga konservasi) tidak tahu lokasinya," sindirnya.

Sampai saat ini, bapak dari Aga, 17, dan Cita, 15, itu menilai fotografer yang fokus menekuni dunia alam liar boleh jadi masih jarang. Ini karena pendapatan yang diperoleh memang tidak sebanyak dan tidak semudah dari fotografi komersial. "Sekarang saya populer, tapi belum tentu di kantong saya ada uang," ujarnya lantas tersenyum.

Ini karena tidak mudah memasarkan fotografi alam liar. Menurut Riza, banyak pihak yang berminat menggunakan fotonya. Namun, mereka tidak menghargai hasil karya foto yang telah dibuatnya berpuluh tahun. "Orang hanya bilang tinggal motret, tapi tidak tahu prosesnya," ujarnya.

Sebagai ilustrasi, jika beruntung, dalam waktu sebulan, foto hasil karyanya bisa laku untuk disewa. "Tapi, bisa juga tahun berikutnya baru laku, karena itulah kita harus punya banyak stok," sebutnya.

Namun, dari kesulitan itu, tetap juga ada kemudahan. Pengalamannya yang berlimpah di alam liar membuatnya kenal banyak orang. Karya buku pertamanya bertajuk Living Treasures of Indonesia berhasil dipublikasikan pada November 2010 lalu. "Saya dibantu banyak teman foto, termasuk percetakannya," kata Riza. Peluncuran buku pertama Riza itu dilakukan pada 5-14 November 2010, di mall Grand Indonesia, Jakarta.

Hingga kini buku yang berisi karya fotonya selama 20 tahun itu sudah terjual 400 kopi. Riza mengaku baru mencetak 1.000 kopi. Dirinya sengaja tidak menjual di penerbit terkenal karena harganya lebih mahal daripada harga percetakan. "Buku saya mau dijual Rp 600 ribu, siapa yang mau beli," ujarnya.

Saat ini dengan harga bukunya Rp 350 ribu, Riza memilih menjual karya bukunya sendiri. Menurut dia, bukan keuntungan yang dia inginkan, melainkan keinginan agar semua orang bisa mengenal keanaekaragaman hayati milik Indonesia. "Obesesi saya nanti membuat buku dan membuat buku lagi," ujarnya bangga.
Menanti Bidadari Halmahera Menari, Riza Marlon
Living Treasure Of Indonesia, Riza Marlon

Bidadari Halmahera, Riza Marlon
sumber : www.jpnn.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar